Modul SMK, Akuntansi, Keislaman, Tarbiyah, Motivasi dan Inspirasi

Bisnis Online yang menepati janji dan bukan Tipuan. Mari Bergabung...

Bang Sani: 'Saya Tim Sukses Pak HNW, Saya tetap memberikan yang Terbaik"



Triwisaksana atau yang akrab disapa Bang Sani, legowo tidak menjadi calon Gubernur DKI Jakarta di pilgub DKI 2012 ini.

"Saya ikhlas dan legowo, karena ini keputusan Partai, insya Allah yangg terbaik untuk semua,” katanya.

Bukan itu saja, Bang Sani siap all out memenangkan pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini yang diusung PKS.

Ketua MPW DPD PKS DKI Jakarta yang juga Wakil Ketua DPRD DKI ini akan menjadi bagian dari tim sukses pasangan NURANI (Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini). 

"Kalau sebelumnya, Pak Hidayat yang akan berpartisipasi jadi tim kampanye Bang Sani. Sekarang giliran saya yang akan menjadi tim sukses Pak Hidayat dan Pak Didik," kata Bang Sani, di Jakarta, Senin (19/3/2012) ketika diwawancarai media.

"Saya tetap memberikan yang terbaik,” ujar Bang Sani di laman akun twitternya@Triwisaksana.

Apresiasi Twitterland atas Keteladanan Bang Sani

Sikap ikhlas dan ketaatan dari Bang Sani atas keputusan hasil syuro PKS ini membuat kader-kader, simpatisan dan masyarakat memberikan apresiasi yang tinggi. Hal ini nampak salahsatunya di social media Twitter,

inilah komentar-komentar mereka......


@MharisArsyad: Bang @Triwisaksana jadi ketua tim sukses HNW-DJR #NURANI. Salut untuk partai yang bisa membangun budaya itsar dan ikhlas.

@maswanto_abii: Belajar keikhlasan dari Panglima perang Khalid bin Walid masa kini, yaitu panglima Jakarta @Triwisaksana , Subhanallah...

@ibupembelajar: Salut atas ketulusan perjuangan Pak @Triwisaksana. Sy semakin dpt teladan bagaimana nilai2 pergerakan itu seharusnya dijewantahkan

@ddeepthinker: Tbukti tak ada ambisi duniawi utk sbuah posisi,mlainkan ktaatan utk mwujudkn visi. Salut pd bang @Triwisaksana yg bjiwa besar,sukses slalu:)

@fendy28190521: Bang Sani anda telah memberi contoh sebuah gerakan jamaah, kami siap all out. Allahu Akbar.

@bangdip: Bang sani, anda bukti bahwa partai/ jamaah anda mampu melahirkan kader yg berjiwa besar dan fokus pd tujuan besar., salut.

@Layen16: Ksatria. Tidak jadi diusung partainya, tidak sakit hati justru terdepan jadi Timses.

@ismuaza : masih ada yang seperti ini @Triwisaksana

@SriViraChandra: Heran dgn sikap nyantai dan ikhlas @triwisaksana gak jd maju #pilkadadki ? Saya tidak :) nyok, manggung bareng lg di ta'lim, Bang :D

@kang_adhan: bang sani tak maju, bukan soal jabatan, tapi amal dakwah. sukseskan pilkada DKI. semangat bang!!

@roro_fajar: Antum qiyadah yg mengajarkan keikhlasan dlm dakwah 

@gunsujatnika: Belajar ta'at dari seorang ustadz @hnurwahid, dan belajar ikhlas dari seorang bang @Triwisaksana. Beginilah dakwah mengajarkan kami :')

@iyanahya: Subhanallah Ust kami begitu salut dengan sikap mu. semoga dapat menjadi contoh

@BroArdy: barakallah, mujahid sejati. Allah Akbar

@muhsyaifulloh: keikhlasan @Triwisaksana meningatkan saya pada panglima Kholid bin Walid di zaman Kalifah Umar, dr Komandan menjadi seorang prajurit biasa

@ustadzhilman: Salut ama bang Sani, mabruuk!

@ustadzhilman: PKS mengajarkan pd publik bgmn beretika dlm berpartai. Partai adlh "kendaraan" bagi ideologi bkn "kendaraan" ambisi pribadi

@RennoIndr: Trima kasih Bang @Triwisaksana telah memberikan pelajaran kpada sy tentang keikhlasan dan ketaatan...Tetap Smangat Abang Sani Abang Kita

@3juhut: Cuma org yg berjiwa besar&tdk ambisi kekuasaan yg bs legowo tdk di calonkan, salut @Triwisaksana. jujur bergetar hati sy lihat fenomena ini

@ahmadnurkhin: Ustadz @triwisaksana, ku hanya mampu meneteskan air mata kebahagiaan dn kebahagiaan. Smoga ku mampu mencontoh.

@asriistiqomah: saya sangat merinding.semoga Bang Sani mendapatkan tempat mulia di hadapan Allah. kami belajar ikhlas.

@cutmeichy: makasih bang, telah memberikan kami beberapa pelajaran tentang ketaatan...

@muhsyaifulloh: belajar dr bang @Triwisaksana tentang ketaatan terhadap Pemimpin dan keputusan musyawarah...Barakallah Ustadz!

@ekoprianof: Banyak pelajaran hidup ana yg di dapat dari antum

@ahmadbay88: kami di bawah disuguhi pembelajaran tentang keikhlasan dari @Triwisaksana dan ketaatan hasil syuro dari @hnurwahid

@bidpuankaltim: pelajaran nyata dr Bang @Triwisaksana ttg Ketaatan seorang prajurit da'wah. smg selalu dlm lindungan Allah

@roziputranasrun: Sepenuh hati kami dukung @Triwisaksana, kini sepenuh jiwa kami dukung keputusan syuro | @hnurwahid - @djrachbini.

@reza_alfikr: pelajaran yang luar biasa tentang keikhlasan dan ketaatan dari sosok @Triwisaksana dan @hnurwahid

@ryfwashere : Blajar bnyk ttg Keikhlasan & Kesabaran dr Pak @Triwisaksana, meskipun batal Cagub DKI, tetap Istiqomah

@indonesia_watch: Bang @Triwisaksana menurutku figur yg luar biasa; tidak melaju sbg cagub PKS dan menjadi komandannya HNW. Ingatkan aku ke figur Khalid

@dit_adith: Yg tidak dimiliki parpol lain adalah keiklasan dan ketaatan kader, PKS membuktikan itu @Triwisaksana n @hnurwahid

@Irwansyah_Aceh: bg sani..keteladanan ust dan ust.dayat, memberi hikmah ajar luar biasa utk kami didaerah ttg loyal dan tsiqah..subhanalLah

@malakmalakmal menulis:

  • Berbulan2 Bang Sani digadang2, tetap ikhlash ketika ust HNW dimajukan. Takkan terjadi di partai lain. #SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Sepenuh hati kami dukung Bang Sani, kini sepenuh jiwa kami dukung keputusan syura. #SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Kami berjuang lewat demokrasi, tp tdk teracuni olehnya. Syura adalah kekuatan kami.#SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Kami adalah anak panah yg siap melesat. Syura adalah busurnya. Tdk ada ambisi.#SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Org banyak bertanya: kapan ust HNW 'dilesatkan'? Kami hny anak panah. Menunggu waktunya. #SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Manakala tiba waktunya, semua anak panah wajib melesat. Tdk ada ambisi. Hny dedikasi. #SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Tdk ada anak panah yg melesat sblm waktunya. Syura bs salah, tp ia membentengi kami. Salah satunya dr ambisi. #SayaBanggaJadiKaderPKS
  • Yg tdk ikhlas inginnya cepat dilesatkan. Yg ikhlas tau semua ada waktunya.#SayaBanggaJadiKaderPKS

On Label: | 0 Comment

Bismillah, ikhwah fillah..sejarah Rasul SAW, memaparkan awal mula kedatangan belaiu saat hijrah ke madinah, yang pertama kali dibangun adalah masjid dan dari masjid itulah semuanya bermula...hingga islam menjulang nan jaya. Paparan ust Cahyadi dalam ceramah MAlam Bina Ruhiyah, di masjid Nurul Huda UNS tadi malam, memberi kesan mendalam. Bagi ikhwah yang berkeinginan memiliki dan mendengarkan silakan download di sini 

On Label: | 0 Comment

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada sebagian sahabat yang berkata ‘Ya Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang laknat. Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat’” (HR. Muslim, hadits shahih. Dalam Kitabul Birr wash Shilah bab An Nahyi ala’nid Dawwab Wa Ghairiha (45/24/2599))
“Seandainya ia pendendam,” tulis Anis Matta dalam Serial Cinta, “Ia pasti menerima tawaran Jibril itu. Tapi tidak! Ia seorang pecinta,” mengomentari jawaban manusia termulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tawaran yang sangat menarik dari Jibril. Betapa tidak, ketika dakwah yang beliau bawa di Makkah mulai mendapati ganjalan yang besar bahkan menemui jalan buntu. Dan harus mulai mencari pembelaan dari luar kota Makkah. Ketika konsentrasi kaum muslimin telah terpencar di Makkah dan Habasyah. Maka alternatifnya dalah segera mencari daerah sebagi basis pertahanan baru untuk melancarkan dakwah. Thaif adalah tempat yang paling strategis. Ia terletak tidak jauh dari Makkah. Tepat berada di selatan Makkah.
Menghadaplah Rasulullah kepada pemuka Bani Tsaqif di Thaif, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Ishaq dalam Tahdzibus Sirah. Rasulullah menemui tiga bersaudara pemuka Bani Tsaqif : Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr. Beliau jelaskan maksud kedatangannya adalah untuk mencari pembelaan dalam menyebarkan ajaran islam dan menghadapi kaumnya yang telah menentangnya. Namun gayung tak bersambut.
“Dia akan mengurai kain Ka’bah jika benar Allah telah mengutusmu,” komentar salah satu diantara mereka dan kemudian salah seorang yang lain menimpalinya, “Apakah Allah tidak menemukan orang selainmu untuk diutusNya?”
Dan orang ketiga menyahut, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepada-Mu selama-lamanya. Jika benar kamu seorang Rasul sebagimana yang kamu katakana, niscaya aku tidak pantas berbicara denganmu. Jika kamu berdusta kepada Allah maka kami tidak patut kamu ajak bicara…”
Aaaah, betapa angkuh dan sombongnya mereka ini. Namun, Rasulullah adalah pribadi nan mulia, beliau sama sekali tidak marah. “Rahasiakanlah apa yang telah kalian lakukan terhadapku” sabda beliau sembari bangkit meninggalkan majelis mereka.
Namun mereka tidak peduli bahkan mengerahkan orang-orang bodoh dan para budak mereka untuk mencela dan meneriaki beliau. “Kakinya berdarah-darah” tulis Anis Matta, dalam Serial Cinta, “Orang-orang thaif bukan saja menolak dakwahnya. Tapi juga menggunakan kekerasan untuk menolak dakwahnya,” mengomentari peristiwa Thaif ini. Bahkan hingga Rasulullah harus berlindung di kebun anggur milik Utbah dan Saibah bin Rabi’ah. Sungguh memang episode terberat yang dialami Rasulullah. Terberat bahkan lebih berat dari perang uhud. Sepertinya yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dari Urwah bin Az Zubair.
Maka kala tawaran itu datang dari Jibril dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang lakukan terhadap dirimu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung. Agar engkau menyuruhnya menurut apa yang kau kehendaki” Malaikat penjaga gunung pun menambahi, “Jika engkau menghendaki untuk meratakan Akhsyabaini, tentu aku akan melakukannya”
Aaah, lagi-lagi tawaran yang menggoda. Allah telah memberikan ijin-Nya. Malaikat pun kini telah siap menjalankan perintah. Tapi sekali lagi, Rasulullah bukanlah seorang pendendam. Ia adalah pecinta. Penebar rahmat. “Aku bahkan memohon penangguhan untuk mereka. Sungguh aku berharap bahwa Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang yang menyembah Allah dan tidak pernah mempersekutukannya” (HR. Bukhari Muslim). Sungguh tidak mungkin kata-kata ini muncul begitu saja. Ia muncul dari pribadi-pribadi luhur penuh cinta. Mendoakan kebajikan pada orang yang menzhalimi. Laqod kanaa lakum fii rasulillahi uswatun khasanah..
Dakwah Adalah Cinta
“Dakwah adalah cinta,” demikian yang diucapkan KH. Rahmat Abdullah. Memang benar. Jika dakwah diibaratkan sebagai proses marketing atau pemasaran. Maka kita tahu produknya adalah islam. Benefit atau manfaat yang diperoleh dari produk tersebut adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta.
“Dan tidaklah KAMI mengutusmu kecuali sebagi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’:107).
Karena rahmat bagi semesta, maka haruslah mampu dirasai oleh penduduk bumi. Islam adalah ibarat sebuah bangunan besar nan kokoh. Kuat. Para pemeluknya aman dan nyaman berada di dalamnya. Sementara pemeluk keyakinan lain pun tetap merasa nyaman meski berada diluar bangunan, Mereka turut merasakan barakahnya. Terteduhi oleh bayangan bangunan itu dari sengat panas mentari. Hingga mereka perlahan-lahan akan takjub dan mulai mendekat ke bangunan islam. Lalu mengetuk pintunya dan bergabung menjadi pemeluk islam. Seperti kisah masuk islamnya seorang yahudi di Mesir. Karena takjubnya akan keadilan islam yang terlihat dari keputusan Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab, ketika memutus sengketa kepemilikan tanah anatara dirinya dengan gubenur Amr bin Al ‘Ash.
Ya, Islam adalah agama kasih sayang. Rahmatan lil alamin. Maka bila kita belajar ushul fiqh, akan dijumpai maqoshid syari’at tujuan diberlakukannya syariat, yaitu untuk melindungi Arkan Khamsah Dhururiyah fi Hayat (lima hajat primer) manusia : (1) Hizhfu Ad-Din (Menjaga Agama), (2) Hizhfu An-Nafs (menjaga jiwa), (3) Hizhfu Al- Aql (menjaga akal), (4) Hizhfu An-Nasl (Menjaga Keturunan), (5) Hizhfu Al-Mal (Menjaga Harta). Adanya pengharaman terhadap khamr adalah bentuk penjagaan terhadap akal manusia. Adanya pengharaman memakan riba. Memakan harta orang lain secara zhalim. Adanya aturan zakat adalah sebagai pemeratan dan distribusi kekayaan. Adalah bentuk bentuk penjagaan terhadap harta. Apabila tidak ada syariat ini maka kehidupan akan semakin ‘njomplang’ . Jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin lebar. Maka akan muncul permasalahan social yang luar biasa. Kriminalitas merajalela. Hingga peradaban manusia tak ubahnya seperti peradaban hewani. Saling memangsa satu dan lainnya Tapi Islam adalah agama nan penuh cinta. Ia memanusiakan manusia. Syariatnya menjaga agar perilaku manusia berjaln diatas jalan yang lurus sesuai fithrahnya. Inilah rahmat.
Maka wajarlah bila Anis Matta menuliskan, “Cinta adalah sebuah kekuatan perubahan yang dahsyat.” Hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Misi kenabian itu berhasil membuat sebuah gebrakan nan menakjubkan. Sebuah pemerintahan. Sebuah super-state. Sebuah kekhalifahan. Sebuah peradaban besar lahir dari sebuah lembah tandus ditengah jazirah Arab. Mengikis habis segala bentuk keangkuhan jahiliyah.
Say teringat sebuah bab pada buku yang ditulis oleh Salim A Fillah, Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim. Pada Bab yang membahas tentang khilafah. Ustadz Salim membukanya dengn sebuah pernyatan dan pertanyan, “Kenabian itu ‘mempersiapkan’ khilafah selama 22 tahun. Maka, tanpa kenabian berapa lama waktu ayng kita perlukan untuk mempersiapkan khilafah yang semisalnya?”
Maka jika nubuwwah telah berhasil membawa kepada kekhalifahan. Dalam waktu yang relatif singkat. 22 tahun 2 bulan 22 hari. Lalu pertanyaannya, dengan cara apakah kita bias kembali menjayakan islam dan menegakkan khilafah tanpa nubuwah? Jawabnya adalah dengan dakwah ‘ala minhajil nubuwwah. Dakwah dengan konsep-konsep kenabian. Melalui model dakwah yang kita pelajari dari sirah nabawi. Dakwah yang bersumber pada nubuwwah. Adalah dakwah yang penuh cinta. Ia menjadi sebuah rahmat bagi semesta. Karena Rasulullah bukanlah seorang pendendam, tapi seorang pecinta. Ia Lembut dan penuh kasih. Maka dakwah pun juga seperti itu, karakter lembut dan penuh kasih haruslah termunculkan dalam pribadi-pribadi da’i yang menyeru kepada Allah.
“Maka disebabkan atas rahmat Allah lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran : 159 )
sumber : http://www.fimadani.com/karena-ia-bukan-pendendam/

On Label: | 0 Comment



OLeh: Muh Ihsan Harahap
M
au diakui atau tidak, PKS terinspirasi banyak oleh "organisasi perlawanan" Mesir yang fenomenal yaitu: Ikhwanul Muslimin. Gerakan Tarbiyah ini dibawa ke Indonesia oleh KH. Hilmi Aminuddin, Beliau adalah ketua Majelis Syuro PKS sekarang.
Sebelumnya, ada 4 pembagian masa/mihwar perjuangan dakwah Tarbiyah di Indonesia: Tanzhimi, Sya’bi, Muassasi, Daulah. Sekarang tengah berada di Mihwar Muassasi/kelembagaan, sedang menuju Mihwar Daulah/Kenegaraan.
Jadi Tarbiyah di Indonesia, dimulai sekitar tahun 70-an dengan mihwar Tanzhimi. Inilah masa perekrutan kader inti oleh muassis/pendiri. Mihwar Tanzhimi, di masa ini kader-kader Tarbiyah masih pada "tiarap", terutama akibat tekanan Orba. Pengajian sembunyi-sembunyi. Setelah Mihwar Tanzhimi, kader Tarbiyah sudah cukup kekuatan dan massa.
Kini masuk mihwar Sya'bi. Mihwar Sya’bi: masih dalam perekrutan kader-kader inti, namun sudah berdiri yayasan-yayasan sosial, sekolah-sekolah IT (Islam Terpadu) oleh para kader Tarbiyah. Mihwar Sya’bi ini berlangsung kira-kira tahun 81 sampai (hampir) akhir 90an. Tahun 1997, krisis finansial menerpa Asia: perlawanan rakyat (terutama Mahasiswa) semakin kuat terhadap dominasi orba. Momentum krisis moneter ini, dijadikan momentum yang pas oleh para mahasiswa dan para kader Tarbiyah untuk mengakhiri orba. Pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia, Soeharto mundur.
TANYA : Peran kader Tarbiyah waktu itu?
JAWAB : Banyak.
KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang notabene para kader-kader Tarbiyah, berperan penting dalam reformasi.
Refleksi : iklan PKS-Soeharto yang lalu adalah bukti bahwa PKS adalah pihak yang pertama 'memaafkan' Soeharto. Bukan Golkar dll.
Pada 20 Juli 1998. Gerakan Tarbiyah di Indonesia mendeklarasikan diri menjadi Partai Keadilan yang pada 20 April 2002 menjadi PKS. Pada Pemilu 1999, Partai Keadilan meraih 7 kursi di DPR-RI. Suaranya cuma 1,4%. Pemilu 2004, rekor dunia diciptakan PKS dengan meraih 7,34% suara atau 45 kursi di DPR. Suaranya naik 600% dari Pemilu 99. Pada waktu itu, mulai saat itu, PKS jadi fenomena dan seakan menjadi 'ancaman' bagi yang lain. Berbagai badai terus menghantam perahu PKS, baik itu karena fitnah ataupun kelalaian beberapa oknum kadernya. Pernah dengar pemberitaan di media bahwa ada oknum kader PKS kedapatan berjudi? Itu benar. Dan media sangat gembor memberitakannya. Judi oknum kader PKS dan berbagai kelalaian oknum 'kader' PKS lainnya menjadi berita bagus untuk media. Bad news = Good News. Tapi pernahkah media memberitakan dengan tegas bahwa kader-kader tersebut langsung dipecat dan diberikan sanksi tanpa pandang bulu oleh PKS? No!
Atau pernahkah media menjelaskan bahwa oknum itu bukan kader namun simpatisan yang direkrut untuk menjawab klaim ekslusif kepada PKS? No! Intinya itu tadi: Bad News of PKS is the good news untuk media.
Yusuf Qardhawi: PKS adalah perpanjangan tangan dari IM yang mewadahi komunitas terbaik kalangan intelektual yang sadar akan agama, negeri, dunia, & zamannya. DR. Yusuf Qardhawi adalah ketua Persatuan Ulama Dunia. Namun pernyataan beliau belum dikonfirmasi PKS sampai sekarang. Dan faktanya saya kira memang seperti itu. Mau bukti? Ayo saya kenalin:
Tren Sekolah Islam Terpadu lahir dari kader-kader Tarbiyah PKS yang dimulai pada 1990an. Sekarang para ortu bangga anaknya sekolah di SIT.
PKS dikenal banyak menghasilkan kader-kader tangguh di berbagai bidang.
Siapa tidak kenal Forum Lingkar Pena? Didirikan oleh salah satu 'simpatisan' : Bunda Helvy Tiana Rosa. FLP sudah mencetak > 7rb penulis. Saya menyebut Bunda helvy sebagai 'simpatisan' sesuai keterangan beliau di “Bukan Di Negeri Dongeng”. Ini buku yang bagus bagi yang mau mengenal PKS.
Tarbiyah juga terkenal banyak menghasilkan mahasiswa/mahasiswi berprestasi. Cek saja para Mahasiswa Berprestasi di UI, IPB, ITB, UGM, ITS, dll. Setau saya, Mahasiswa Berprestasi Indonesia tahun 2006 adalah kader Tarbiyah. Ada yang kenal Shofwan al-Banna Choiruzzad ? Shofwan al-Banna Choiruzzad: 1st Winner di St.Gallen Wings of Excellence Award 2009. Kader Tarbiyah yang mengalahkan mahasiswa Harvard (Jason George/US) di ajang itu. Shofwan al-Banna Choiruzzad adalah Best Student of Indonesia 2006. Siapa Best Student of Indonesia pada th 2007? Beliau dikenal sebagai @pembuat_jejak. Danang Ambar Prabowo -> Wakil Indonesia di Bayer Eco-Minds 2009 - New Zealand.Best Student of Indonesia 2007. Beliau kakak kelas saya di IPB :D Yah, sekarang lanjut kultwitsotoy saya tentang Tarbiyah dan PKS. Kemarin sampai di mahasiswa-mahasiswa Tarbiyah ya? Ok, kita akan bahas lebih luas. Bisa dibilang PKS ini adalah perusahaan besar penghasil "aktor-aktor" terbaik di berbagai lini kehidupan.
Sebelumnya ada Bunda Helvy di bidang kepenulisan. Jangan lupa juga penulis muda fenomenal ini: Salim A Fillah -> Author of DDU (Dalam Dekapan Ukhuwah) Yang mau tau lebih lanjut tentang @salimafillah mangga difollow aja.. Masih banyak lagi: Izzatul Jannah dll di FLP. Juga ribuan penulis produktif di kampus-kampus dan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Bukan hanya memproduksi penulis, Tarbiyah juga memproduksi berbagai musisi, bahkan sampai di musik underground. Ada yang kenal Thufail Al-Ghifari? Seorang rapper & vokalis The Roots of MadIndonesiah, pentolan Salam Satu Jari! . Seorang kader Ada yang membantah Thufail Al Ghifari bukan kader Tarbiyah, ok silakan baca 'pengakuan' beliau di http://thufailalghifari.blogspot.com/ Thufail bilang: "Ya Ikhwah, aku sudah pulang!". Ya, dia telah mengembara banyak harokah & agama. Dan akhirnya menemukan Islam dan Tarbiyah ini.
Ok, kita sudahi prestasi PKS di bidang seni, kita lihat apa kontribusi nyata PKS di lapangan. Jangan sampai hanya ngomong doang.
Soal kepedulian terhadap bencana alam. Ada yang lebih tanggap dari PKS ? Tsunami Aceh, puluhan kader PKS diterjunkan.
Bencana Merapi, sampai sekarang Pandu Keadilan PKS masih terus memfollow-up secara langsung masyarakat sekitar Merapi. Adakah dari partai selain PKS ?
Kepdulian saudaranya di luar Indonesia juga menjadi ciri khas PKS. Ada yang tau berapa ratus ribu orang yang turun pada aksi terakhir di HI-Monas?
Hanya PKS yang bisa mengumpulkan 500.000 kadernya dalam jangka waktu 2 hari. Kader PKS ini bisa dibilang sangat militan.
Dari mana dananya sehingga bisa mengumpulkan 500.000 kader dalam 48 jam? Jawabannya: Di Tarbiyah PKS ada prinsip: "Sunduquna juyubuna" --> Brankas kita adalah saku-saku kita masing-masing. Prinsip ini sangat kental di PKS. Anda tahu berapa dana yang diinfaqkan untuk kepedulian Timur Tengah? Ada yang tau berapa puluh Milyar? "Sunduquna juyubuna". Eh, salah satu poin penting Mukernas PKS di Jogja adalah "invasi" 500.000 kader di FB & Twitter, udah keliatan belum ya?
Mungkin ada yang langsung nanya: "Darimana duit untuk pulsanya? Ongkos warnetnya dari mana?". Jawabannya: "Sunduquna juyubuna".
Mungkin, cuma PKS yang punya 1 mobil ambulance di setiap DPD nya. Itu minimal. Kan banyak juga DPC PKS yang punya. "Sunduquna juyubuna".
Di PKS, ada Pandu Keadilan. Tau ga? Itu lho yang jadi "security" kalo PKS ada demo, yang turun ke lokasi bencana dll. Pasukan Coklat :)
Di atas Pandu Keadilan, ada yang namanya KORSAD. Ini Pasukan Al-Qassam nya Seragamnya hitam merah.
Jumlah Pasukan yang masuk di KORSAD ini lebih sedikit dibanding Pandu Keadilan. KORSAD ini kader-kader pilihan.
Bahkan di DPD daerah saya, Takalar, cuma ada 1 orang KORSAD. Ya intinya masuk KORSAD tidak segampang masuk Pandu Keadilan.
Apa lagi yang mau saya cerita tentang PKS dan Tarbiyah di #kultwitsotoy ini? Hmm... tertarik menarik garis 'perang dingin' PKS dan JIL :)
Oh ya, sebelumnya, adik saya @navisannajia minta SANTIKA dikenalin juga. Ok, akan saya kenalin. SANTIKA: Barisan Putri Keadilan. Pasukan Akhwatnya PKS. Partner Pandu Keadilan dan KORSAD kalau PKS lagi ada aksi/demo. Jilbabnya lebar :) Saya sebenarnya tidak begitu mengenal dalam SANTIKA. Namun, akan saya ceritakan pengalaman bersama mereka pada aksi th 2010 di Sulsel. Waktu itu, sejam setelahMukhayyam Dasar I (MD I) Pandu Keadilan. Pasukan PKS dikumpulkan untuk promosi calon bupati Kab. Gowa. Semua Pasukan PKS datang dari 4 daerah: Gowa, Takalar, Makassar dan Maros. Ada KORSAD, Pandu Keadilan dan SANTIKA 3 (tiga) Pasukan PKS ini diinstruksikan untuk berlari 4 Kilometer tanpa boleh berhenti. Dan apa yang terjadi? Di kilometer ke-3, Pandu Keadilan yang kecapaian tanpa pemanasan, didahului oleh SANTIKA yang terus berlari. Pandu Keadilan cengeng! Hha.
Oh iya, ada yang suka ANDREA HIRATA? Angkat tangan! Apa hubungannya ANDREA HIRATA dengan PKS? Ada! Simak selanjutnya..
Adakah dari kawan-kawan yang pernah membaca buku Laskar Pelangi: The Phenomenon ? Di sana ada kisah tentang seorang kader SANTIKA
Nah, bagi yang mau mengenal karakter SANTIKA. Silahkan baca kisah terakhir di buku LASKAR PELANGI: THE PHENOMENON.

On Label: | 0 Comment

NIlai UKK Nasional Kas Kecil  kelas XII AP silakan klik DI SINI   

On Label: | 0 Comment


Seorang perancang bangunan tampak serius bekerja di ruangannya. Ia menghitung dengan cermat dan presisi setiap bagian, sejak pondasi hingga semua sudut dan bagian terkecil bangunan yang hendak didirikannya. Ia merancang sebuah bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke langit. Sebuah mega proyek yang harus dikerjakan dengan teliti dan penuh perhitungan.
Karena mega proyek yang dikerjakan berada di tengah komunitas masyarakat, bukan di tengah hutan, maka semakin cermat lagi ia menghitungnya. Tidak boleh ada yang terlewatkan. Ia memahami betul, kalau salah dalam membuat perhitungan, akan berdampak fatal kepada bangunan yang hendak didirikan. Bisa jadi bangunan tersebut mudah ambruk oleh sebuah guncangan kecil, atau karena adanya angin kencang. Jika bangunan ambruk, tentu sangat membahayakan penghuninya, dan juga warga sekitarnya.
Ia merancang bangunan tersebut untuk bisa tahan terhadap gempa maupun bencana lainnya. Gempa besar, tsunami, angin puting beliung, hingga badai matahari, telah diperhitungkan semua. Sebuah bangunan yang tidak akan mudah roboh oleh bencana. Maka ditemukanlah formula, rancang bangun dari gedung yang dimaksudkan; seperti apa pondasi yang diperlukan, kualitas besi, jumlah semen, sampai seluruh detail keperluan pembangunan.
Setiap perancang bangunan mengetahui dengan pasti, bahwa diperlukan hitungan yang berbeda untuk setiap bangunan yang hendak dibuatnya. Membuat rumah bambu, memerlukan pondasi yang sederhana saja. Membuat rumah semi permanen, berbeda lagi pondasi yang diperlukan. Membuat rumah permanen, ada lagi hitungannya. Hingga ketika membuat gedung bertingkat, memerlukan kekuatan pondasi yang berbeda dengan bangunan biasa.
Pondasi sangat menentukan kualitas gedung yang hendak dibangun. “Sekedar” membangun rumah tempat tinggal, diperlukan hitungan dan rencana yang cermat. Bagaimana dengan membangun sebuah keluarga ? Bagaimana dengan membangun peradaban kemanusiaan yang mulia ?
Merancang Pondasi Keluarga
Untuk apakah kita menikah dan membangun sebuah keluarga ? Di atas landasan apakah kita mendirikan sebuah bangunan keluarga ? Pertanyaan ini menjadi penting untuk mendapatkan jawaban dan kepastian, karena akan menentukan sejauh mana kekokohan dan ketahanan setiap keluarga bisa didapatkan.
Sesungguhnyalah pernikahan dan keluarga terjadi bukan semata-mata karena memenuhi hasrat kemanusiaan. Pernikahan adalah sebuah jalan yang bertanggung jawab untuk membentuk kebudayaan agung dan peradaban mulia. Lebih dari itu, pernikahan merupakan amanat Ketuhanan dan risalah Kenabian. Maka, pernikahan bukanlah semata peristiwa menyalurkan “hasrat kebebasan” secara bertanggung jawab, namun pernikahan adalah sebuah upaya meretas peradaban kemanusiaan yang bermartabat.
Dengan pernikahan, terbentuklah keluarga sebagai lembaga terkecil yang mampu memberikan penghargaan dan nilai secara utuh kepada semua potensi kemanusiaan. Keluarga memberikan makna yang kuat atas setiap posisi, sebagai suami, isteri, orang tua, anak-anak, kakak, adik, dan lain sebagainya. Keluarga memberikan ikatan yang bermartabat bagi
Pernikahan dan Keluarga adalah Amanat Ilahi
Sebagai bangsa yang religius, kita meyakini bahwa pernikahan adalah perintah Tuhan yang menjadikan legitimasi sangat kuat sejak konsep hingga pelaksanaannya. Pernikahan adalah amanat Ilahi agar manusia hidup dalam keseimbangan dan mendapatkan kebahagiaan, ketenteraman, ketenangan lahir maupun batin. Pernikahan merupakan amanat Tuhan agar manusia berkembang biak dengan cara yang halal, sehingga terbentuk generasi baru kemanusiaan yang lebih baik dan lebih berkualitas, untuk meneruskan pengelolaan alam semesta.
Pemahaman seperti ini membuat pernikahan bukanlah peristiwa coba-coba, atau sekedar menyalurkan hasrat kemanusiaan, atau sebuah kebetulan dan kewajaran dalam kehidupan. Memahami bahwa pernikahan adalah amanat Ilahi, akan membuat kita menjadi bertanggung jawab atas pilihan pasangan hidup, sampai tanggung jawab mendidik generasi baru yang terlahir dari pernikahan tersebut. Pernikahan menjadi sesuatu yang sakral dan religius, karena diikat oleh janji agung Ketuhanan, diformat dalam ajaran agama, dan disahkan pula oleh negara.

On Label: , | 0 Comment

Pada postingan terdahulu telah saya sampaikan bahwa pernikahan adalah amanat Ilahi agar manusia hidup dalam keseimbangan dan mendapatkan kebahagiaan, ketenteraman, ketenangan lahir maupun batin. Pernikahan merupakan amanat Tuhan agar manusia berkembang biak dengan cara yang halal, sehingga terbentuk generasi baru kemanusiaan yang lebih baik dan lebih berkualitas, untuk meneruskan pengelolaan alam semesta.

Tetapi mengapa banyak dijumpai banyaknya fenomena perceraian, atau pernikahan yang ditelantarkan, atau kekerasan dalam rumah tangga, atau pengkhianatan dalam keluarga ? Bukankah pernikahan itu janji atas nama Tuhan, mengapa mudah dikhianati? Mengapa muncul gejala kawin cerai, baru sebentar pernikahannya langsung bercerai. Lalu menikah lagi dan bercerai lagi. Mengapa pernikahan dianggap seperti permainan ?
Bukan Seperti Memakai Sepatu
Sepertinya, pada banyak kalangan pernikahan hanya disamakan dengan membeli dan memakai sepatu. Ada orang yang tidak suka sepatu, maka ia lebih memilih berjalan tanpa alas kaki. Ada orang tidak suka sepatu, maka ia memakai sandal. Sebagian lainnya memilih memakai sepatu dengan gaya dan corak yang sangat beragam.
Ketika seseorang hobi koleksi sepatu, maka ia akan memiliki banyak simpanan dan banyak jenis sepatu. Ia memakai sepatu sesuai situasi dan kondisi. Untuk acara formal, ada sepatu tersendiri yang dikenakan. Untuk oleh raga, sepatunya berbeda lagi. Untuk acara santai, sepatunya pun khusus. Untuk rekreasi, ada sepatu yang tepat untuk itu.
Ketika bosan dengan satu jenis sepatu, ia akan membuang sepatu itu dengan alasan “sudah kuno”. Atau ia akan mengganti dengan yang lebih baru karena alasan “lebih up to date”. Ketika ia sudah tidak suka dengan sepatu, dengan cepat membuang dan mencari penggantinya karena alasan “sudah tidak ada kecocokan”. Maka sepatupun datang pergi silih berganti. Hari ini membeli sepatu dengan harga mahal, namun hanya bertahan sebulan, setelah itu dibuang untuk membeli sepatu baru dengan alasan “mendapatkan yang lebih cocok”.
Ketika pernikahan dan keluarga dipahami seperti membeli sepatu, maka kejadiannya tidak jauh berbeda. Hari ini menggelar pesta pernikahan yang mahal, namun hanya bertahan beberapa bulan setelah itu bercerai dan mencari pasangan lain lagi. Sebagian orang hobi mengoleksi wanita atau lelaki “simpanan”, karena akan digunakan sesuai kebutuhan. Sebagian orang bercerai dengan alasan “sudah tidak ada kecocokan”, atau karena “mencari yang lebih cocok”.
Beberapa kalangan memilih tidak menikah dengan alasan “tidak suka menikah”, dan lebih suka hidup menyendiri. Ada pula yang memilih tidak menikah dengan alasan agar memiliki kebebasan dalam berganti-ganti pasangan sesuai selera dan kesenangan. Benar-benar pernikahan hanya dianggap seperti membeli dan mengenakan sepatu. Kapan membeli sepatu, kapan memakai dan kapan membuang sepatu itu, adalah karena selera yang berubah.
Karena menganggap seperti memakai sepatu, maka pernikahan menjadi sesuatu yang sangat ringan dan sepele. Tidak memiliki kesakralan apapun, karena hanya menyalurkan hobi serta kesenangan. Sangat mudah memutuskan untuk berpisah, berganti pasangan, bertukar pasangan, membuang pasangan, meninggalkan pasangan, mengoleksi banyak kekasih, dan lain sebagainya. Karena nikah dianggap penyaluran hobi dan kesenangan semata.
Pernikahan dan Keluarga adalah Ibadah
Bagi masyarakat yang beriman, pernikahan dan keluarga adalah ibadah. Karena aktivitas ini adalah amanah Ilahi, diatur oleh agama dan negara, maka tidak bisa dianggap sekedar sebagai selera. Ketika seseorang memutuskan menikah, sepenuhnya ia menyadari tengah melaksanakan misi Ketuhanan, tengah menunaikan risalah kenabian, tengah menjalankan tugas kemanusiaan dan tengah merintis pembangunan peradaban.
Pernikahan adalah ibadah, karena melaksanakan tuntunan Ketuhanan. Tidak semata-mata pilihan selera, ingin menikah atau tidak. Bukan pilihan gaya hidup, ingin hidup terikat atau hidup bebas. Bukan peristiwa membeli sepatu, ingin yang model terbaru atau model klasik. Namun pernikahan merupakan ikatan yang diikrarkan atas nama Tuhan, dicatat dalam lembar dokumen pemerintahan, disaksikan oleh keluarga dan masyarakat. Pernikahan merupakan kegiatan sakral yang sekaligus menjadi peristiwa budaya, yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat.
Dengan motivasi ibadah, maka pernikahan menjadi ikatan yang tidak boleh dianggap remeh dan kecil, karena terjadi atas nama Tuhan. Beribadah itu harus penuh kesungguhan, bukan sesuai selera sesaat. Inilah motivasi yang akan menyelamatkan keluarga dari penyimpangan dan kehancuran. Setiap kali ada masalah atau konflik, pertama kali harus dikembalikan kepada motivasi awal pernikahan. Bukankah pernikahan dan berkeluarga untuk ibadah, lalu mengapa harus dikalahkan oleh persoalan-persoalan kecil yang muncul dalam perjalanan kehidupan ?
Maka bertanggungjawablah dalam pernikahan. Jangan menyepelekan ikatan pernikahan yang sakral dan agung. Pernikahana akan menjadi langgeng apabila diletakkan dalam bingkai dan pondasi ibadah. Apabila semata-mata dianggap seperti memakai sepatu, maka menikah hanyalah asesoris hidup. Sekedar urusan hobi, suka atau tidak suka, selera atau tidak selera, cocok atau tidak cocok. Diukur dengan nafsu pribadi setiap orang. Inilah yang merusak pernikahan dan merusak kebaikan keluarga.
Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2012/03/02/menikah-itu-bukan-seperti-memakai-sepatu/

On Label: , | 0 Comment

Oleh: Anis Matta

ABSTRACT:

Ummat ini bagaikan daun-daun yang berguguran, mudah sekali diterpa angin. Tiada kekuatan yang mampu menghimpunnya kembali, menata seperti ia masih bergayut pada pohonnya. Begitulah kenyataan! Banyak orang saleh, orang hebat, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan. Oleh karena itu, jalan panjang untuk menuju kebangkitan ummat ini haruslah dimulai dari menghimpun daun-daun tersebut dalam wadah yang bernama jama'ah, merajut kembali jalinan cinta, satukan potensi dan kekuatan, sehingga ia menjadi pohon peradaban yang teduh, menaungi kemanusiaan.

Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencinta
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu

Itulah beberapa bait dari sajak doa Iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada setiap kesaksiannya atas zamannya; ummat ini seperti daun-daun yang berhamburan. Seperti daun-daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut pada pohonnya.

Begitulah kenyataan ummat ini; mungkin banyak orang saleh diantara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah yang bernama jama'ah. Mungkin banyak orang hebat diantara mereka, tapi kehebatan mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu diantara mereka, tapi semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.

Maka jama'ah adalah alat yang diberikan Islam bagi umatnya untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan itu; supaya kekuatan setiap satu orang saleh, atau orang hebat, atau satu potensi, bertemu padu dengan kekuatan saudaranya yang lain, yang sama salehnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.

Jama'ah juga merupakan CARA YANG PALING TEPAT UNTUK MENYEDERHANAKAN PERBEDAAN-PERBEDAAN PADA INDIVIDU. Di dalam satu jama'ah, individu-individu yang memiliki kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka meskipun ada banyak jama'ah, itu tetap jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Sebab JAUH LEBIH MUDAH MEMETAKAN ORANG BANYAK MELALUI PENGELOMPOKAN ATAU SIMPUL-SIMPULNYA, KETIMBANG HARUS MEMETAKAN MEREKA SEBAGAI INDIVIDU.

Maka jalan panjang menuju kebangkitan kembali ummat ini, harus dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta diantara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian `meledakkannya' pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Tapi itulah masalahnya. Ternyata itu bukan pekerjaan yang mudah. Ternyata cinta tidak mudah ditumbuhkan diantara mereka. Ternyata orang saleh tidak mudah disatukan. Ternyata orang hebat tidak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat yang lain. Mungkin itu sebabnya, ada ungkapan di kalangan gangster mafia; seorang prajurit yang bodoh, kadang-kadang lebih berguna dari pada dua orang jenderal yang hebat. Tapi tidak ada jalan lain; NABI UMMAT INI TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN SETIAP ORANG DI ANTARA KITA UNTUK MENINGGALKAN JAMA'AH SEMATA-MATA KARENA IA TIDAK MENEMUKAN KECOCOKAN BERSAMA ORANG LAIN DALAM JAMA'AHNYA. Sebab, kekeruhan jama'ah, kata Imam Ali Bin Abi Thalib Ra, jauh lebih baik daripada kejernihan individu.

DARI INDIVIDU KE JAMA'AH

Orang-orang saleh diantara kita harus menyadari, bahwa tidak banyak yang dapat ia berikan atau sumbangkan untuk Islam kecuali kalau ia bekerja di dalam dan melalui jama'ah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain, bahwa tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya, bahwa KECERDASAN INDIVIDUAL TIDAK PERNAH DAPAT MENGALAHKAN KECERDASAN KOLEKTIF. Bekerja di dalam dan melalui jama'ah tidak hanya terkait dengan fitrah sosial kita, tapi terutama terkait dengan kebutuhan kita untuk menjadi lebih efisien, efektif dan produktif.

Ada juga alasan lain. Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan dan lainnya. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat moderen menjadi sangat efektif dan efisien serta produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain. Jadi kebutuhan setiap individu Muslim untuk bekerja, atau beramal Islami di dalam dan melalui jama'ah, bukan saja lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efesiensi dan produktivitasnya, tapi juga lahir dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal Islami pada level yang setara dengan tantangan zaman kita.

Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan kalau ada, biasanya tanpa manajemen.

Pilihan untuk bekerja dan beramal Islami di dalam dan melalui jama'ah hanya lahir dari kesadaran mendalam seperti ini. Tapi kesadaran ini saja tidak cukup. Ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat bekerja lebih efektif, efisien dan produktif dalam kehidupan berjama'ah.

1. KESADARAN BAHWA KITA HANYALAH BAGIAN DARI FUNGSI PENCAPAIAN TUJUAN

Jama'ah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar. Untuk jama'ah bekerja dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Di dalam strategi besar itu, individu harus ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapainya. Jadi sehebat apa pun seorang individu, bahkan sebesar apa pun kontribusinya, dia tidak boleh merasa lebih besar daripada strategi dimana ia merupakan salah satu bagiannya. Begitu ada individu yang merasa lebih besar dari strategi jama'ah, maka strategi itu akan berantakan. Untuk itu setiap indvidu harus memiliki kerendahan hati yang tulus.

2. SEMANGAT MEMBERI YANG MENGALAHKAN SEMANGAT MENERIMA

Dalam kehidupan berjama'ah terjadi proses memberi dan menerima. Tapi jika pada sebagian besar proses kita selalu berada pada posisi menerima, maka secara perlahan kita `mengkonsumsi' kebaikan-kebaikan orang lain hingga habis. Itu tidak akan pernah mampu melanggengkan hubungan individu dalam sebuah jama'ah. Betapa bijak nasihat KH Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah; "Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah".

3. KESIAPAN UNTUK MENJADI TENTARA YANG KREATIF

Pusat stabilitas dalam jama'ah adalah kepemimpinan yang kuat. Tapi seorang pemimpin hanya akan menjadi efektif apabila ia memiliki prajurit-prajurit yang taat dan setia. Ketaatan dan kesetiaan adalah inti keprajuritan. Begitu kita bergabung dalam sebuah jama'ah, kita harus bersiap untuk menjadi taat dan setia. Tapi ruang lingkup amal Islami yang sangat luas membutuhkan manusia-manusia kreatif. Dan kreativitas tidak bertentangan dengan ketaatan dan kesetiaan. Jadi
kita harus menggabungkan antara ketaatan dan kreativitas; ketaatan lahir dari kedisiplinan dan komitmen, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan kelincahan. Dan itu merupakan perpaduan yang
indah.

4. BERORIENTASI PADA KARYA, BUKAN PADA POSISI

Jebakan terbesar yang dapat menjerumuskan kita dalam kehidupan berjama'ah adalah posisi struktural. Jama'ah hanyalah wadah bagi kita untuk beramal. Maka kita harus selalu berorientasi pada amal dan karya yang menjadi tujuan utama kita berjama'ah, dan memandang posisi structural sebagai perkara sampingan saja. Dengan begitu kita akan selalu bekerja dan berkarya ada atau tanpa posisi struktural.

5. BEKERJASAMA WALAUPUN BERBEDA

Perbedaan adalah tabiat kehidupan yang tidak dapat dimatikan oleh jama'ah. Maka adalah salah jika berharap untuk hidup dalam sebuah jama'ah yang bebas dari perbedaan. Yang harus kita tumbuhkan adalah kemampuan jiwa dan kelapangan dada untuk tetap bekerjasama di tengah berbagai perbedaan. Perbedaan tidaklah sama dengan perpecahan, dan karena itu kita tetap dapat bersatu walaupun kita berbeda.


JAMAAH YANG EFEKTIF

Mungkin jauh lebih realistis untuk mencari jama'ah yang efektif ketimbang mencari jama'ah yang ideal. Kita adalah ummat yang sakit. Setiap kita mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu saling bertemu dalam sebuah jama'ah, pada dasarnya jama'ah itu juga merupakan jama'ah yang sakit. Itulah faktanya. Tapi tugas kita menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan.

Jama'ah yang efektif adalah JAMA'AH YANG DAPAT MENGEKSEKUSI ATAU MEREALISASIKAN RENCANA-RENCANANYA. Kemampuan eksekusi itu lahir dari integrasi antara berbagai elemen; ada sasaran dan target yang jelas, strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja dengan penuh semangat, lingkungan strategi yang kondusif.

Jama'ah yang didirikan untuk kepentingan menegakkan syariat Allah Swt di muka bumi, akan menjadi efektif apabila ia memiliki syarat-syarat berikut ini;

1. IKATANNYA AQIDAH, BUKAN KEPENTINGAN

Orang-orang yang bergabung dalam jama'ah itu disatukan oleh ikatan aqidah, dipersaudarakan oleh iman, dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan duniawi yang biasanya lahir dari dua kekuatan syahwat; keserakahan (hubbud dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

2. JAMA'AH ITU SARANA, BUKAN TUJUAN

Jama'ah itu tetap diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan. Sehingga tidak ada alasan untuk memupuk dan memelihara fanatisme sekadar untuk menunjukkan kesetiaan pada grup. Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama'ah-jama'ah itu saling bekerja sama diantara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam pertarungan yang saling mematikan.

3. SISTEM, BUKAN TOKOH

Jama'ah itu akan menjadi efektif jika orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalah sesuatu yang terpisah. Dengan cara ini kita mencegah munculnya diktatorisme dimana selera sang Pemimpin menjelma menjadi sistem.

4. PENUMBUHAN, BUKAN PEMANFAATAN

Sebuah jama'ah akan menjadi efektif jika ia memandang dan menempatkan orang-orang yang bergabung ke dalamnya sebagai pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh-kembangkan secara terus menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama'ah itu. Jama'ah itu akan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, atau sapi-sapi yang dungu yang harus diperah setiap saat.

5. MENGELOLA PERBEDAAN, BUKAN MEMATIKANNYA

Jama'ah yang efektif selalu mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya. Dan itu dilakukan melalui mekanisme syuro yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan untuk diubah menjadi konsensus..


(Diambil dari Buku "Dari Gerakan ke Negara")

On Label: , | 0 Comment

Pandangan Para Ulama
Rp 30.000/eks (+ Rp10.000/eks ongkos kirim).Operasi pengembalian keperawanan wanita dalam istilah bahasa Arab adalah ritqu ghisyya al-bikarah. Secara harfiah, ritqu dapat diartikan menjadi “menempelkan atau merapatkan”.[95]
Sedangkan ghisyya al-bikarah berarti selaput clitoris atau selaput dara yaitu permukaan daging tipis dan lembut yang terletak pada kelamin wanita. Ia disebut juga dengan selaput keperawanan (udzrah). Perawan adalah “wanita yang belum dijima’ oleh laki-laki”.
Karena itu secara jumlah, kalimat ritqu ghisyya al-bikarah dapat diartikan menjadi “mengembalikan selaput dara atau selaput keperawanan yang telah sobek atau rusak karena sebab tertentu dengan cara dioperasi.
Selaput ini menjadi rusak total atau sebagian, disebabkan oleh peristiwa yang disengaja atau tidak, yang dilakukan manusia atau yang lainnya, karena selaput ini adalah kulit tipis yang halus. Menurut pengetahuan masyarakat secara umum, selaput dara ini menjadi tanda kalau seorang wanita masih perawan dan terjaga virginitasnya. Apabila selaput ini rusak sebelum menikah, maka hal ini dapat menyebabkan penolakan atau kemarahan dari suami yang akan menikahinya, keluarganya dan masyarakat.
Operasi mengembalikan keperawanan ini merupakan hal baru dan tidak ada satu nash pun yang pernah menyebutkannya, selain karena ulama klasik sendiri juga belum pernah menerangkan perkara ini apalagi sampai menetapkan hukumnya, karena hal seperti ini pada saat itu belum dikenal.
Oleh sebab itu, diperlukan kajian yang mendalam dan pemahaman lebih lanjut dari syari’at, kaidah-kaidah umum dan perbandingan antara maslahat dan mudharat. Dengan demikian, diharapkan akan dihasilkan validitas hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah dilakukan penelitian intensif melalui literatur-literatur fiqh, penulis menemukan bahwa ulama kontemporer berbeda pendapat dalam menyikapi masalah ini. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:
Pendapat Pertama:
Operasi pengembalian keperawanan yang rusak dilarang secara mutlak. Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad al-Mukhtar Asy-Syanqithiy.[96]
Ia mengungkapkan dalil-dalil[97] sebagai berikut berikut:
  1. Operasi seperti ini terkadang dapat menimbulkan percampuran nasab. Hal ini juga memungkinkan seorang wanita yang melakukan zina kemudian menikah kembali dengan lelaki lain setelah melakukan operasi, sehingga anak yang ada dalam kandungan dinasabkan kepada suaminya yang kedua. Perbuatan semacam ini adalah haram. Karena itu, segala sesuatu yang dapat mengarah kepada yang haram, hukumnya adalah haram sesuai dengan kaidah sad adz-dzari’ah.
  2. Operasi seperti ini akan memudahkan atau membuka peluang para gadis remaja untuk melakukan perzinaan, karena obat untuk mencegah kehamilan akibat persetubuhan dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko obat atau apotik-apotik terdekat. Hubungan intim baik sah maupun tidak sah pada hakekatnya dapat merusak selaput clitoris wanita, akan tetapi hal itu dapat dikembalikan melalui operasi. Operasi seperti ini hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, para dokter dilarang mempraktekkan operasi semacam ini.
  3. Operasi ini dapat membuka jalan bagi para gadis dan keluarganya berbohong dengan maksud menyembunyikan penyebab hilangnya dan rusaknya keperawanan mereka. Sedangkan berbohong hukumnya haram dan apapun yang mengarah kepada hal yang haram hukumnya adalah haram.
  4. Operasi dalam bentuk semacam ini akan membuka kebohongan, penipuan dan pemalsuan yang diharamkan oleh agama. Keharamannya merupakan kesepakatan ulama (ijma’).
Pendapat Kedua:
Operasi pengembalian keperawanan yang rusak diperbolehkan dalam kondisi-kondisi tertentu sebagai berikut:
  1. Jika isteri atau wanita yang melakukan operasi ini mendapatkan izin dari suaminya, dan ia hadir bersamanya ketika operasi berlangsung.[98]
  2. Jika selaput perawan telah rusak sejak lahir atau rusak karena perbuatan seseorang yang bukan perbuatan maksiat, seperti mengobati penyakit yang ada dalam selaput sehingga terjadi kerusakan, atau robek akibat penyiksaan, pemaksaan dan pemerkosaan.[99]
  3. Jika kerusakan yang disebabkan perzinaan belum diketahui umum. Namun jika telah tersebar, baik karena keputusan mahkamah maupun orang itu sudah dikenal sebagai wanita pezina (WTS), maka ulama sepakat mengharamkan operasi tersebut. Karena yang demikian itu akan mengakibatkan banyak kemudharatan.[100]
Kelompok ini mengungkapkan dalil-dalil[101] sebagai berikut:
  1. Operasi pengembalian keperawanan yang rusak merupakan salah satu cara untuk menyembunyikan aib wanita tersebut. Karena jika aib itu tersebar di kalangan masyarakat umum, maka wanita itu akan dipermainkan, dicemooh dan dikucilkan, sekalipun ia tidak melakukannya. Aib tersebut bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk semua keluarganya. Karena itu, menyembunyikan aib orang lain adalah disyariatkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba menyembunyikan aib saudaranya di dunia, melainkan Allah SWT akan menyembunyikan aibnya di akhirat”.[102] Nabi SAW berkata pada Hazzal, -dia adalah orang yang mengetahui peristiwa perzinaan yang dilakukan oleh Ma’iz-, “Jika engkau menyembunyikannya dengan pakaianmu, maka itu lebih baik untukmu”.[103]
  2. Operasi ini akan melindungi keluarga dari kehancuran rumah tangga. Karena jika hal tersebut diketahui oleh suaminya, maka akan terjadi perselisihan yang berdampak pada hilangnya rasa percaya antara keduanya dan suami akan menuduh pasangannya telah melakukan serong. Karena itu, operasi ini boleh dilakukan jika dengan tujuan menghindari terjadinya kehancuran rumah tangga.
  3. Hilangnya keperawanan seseorang wanita dapat menimbulkan prasangka buruk terhadap dirinya, meskipun ia belum tentu melakukannya, karena hilangnya keperawanan seseorang itu dapat terjadi karena bermacam-macam hal. Oleh karena itu, diperbolehkan operasi tersebut merupakan sarana (washilah) untuk menghindari prasangkan buruk tersebut. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa”. (QS. Al-Hujarat:12)
  4. Menurut ulama fiqh, tersebarnya informasi bahwa seseorang wanita telah hilang keperawanannya tidak langsung mengindikasikan bahwa wanita itu melakukan zina.[104] Hal tersebut bisa saja terjadi karena faktor-faktor lain. Karena itu, zina dapat ditetapkan dengan tiga hal: pengakuan, saksi, bukti hamil di luar nikah atau hamil setelah dicerai atau setelah ditinggal mati suaminya dan selesai masa iddahnya. Berdasarkan hal di atas, maka pendapat yang memperbolehkan operasi ini dilakukan merupakan upaya untuk menghindari wanita dari tuduhan melakukan zina.
  5. Sebagian masyarakat langsung menvonis wanita yang rusak keperawanannya meskipun tanpa bukti yang jelas yang sebenarnya dari sisi agama ia tidak dihukum. Namun petaka ini berpotensi merusak kehidupan rumah tangganya atau mungkin dapat menyebabkan wanita tersebut hidup menjadi perawan tua, karena tidak ada seorang laki-laki pun yang mau meminangnya sehingga jiwanya akan terguncang. Maka melakukan operasi dalam kondisi ini adalah untuk melindunginya dari tuduhan-tuduhan masyarakat yang tidak berdasarkan syari’at.
  6. Upaya pengobatan guna mengembalikan keperawanan wanita yang melakukan zina dan perbuatannya belum tersebar diharapkan dapat menyembunyikan aib mereka serta memotivasi mereka untuk bertaubat dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya, dan Allah akan mengampuni dosanya. Namun jika ia tetap melakukannya tanpa pernah merasa berdosa di hadapan Allah, maka semuanya kita serahkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu menyembunyikan aib orang lain agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap orang lain. Dalam sebuah pepatah dikatakan “kemaksiatan jika disembunyikan tidak akan membahayakan kecuali bagi pelakunya sendiri, namun apabila tersebar dan tidak seorang pun membantahnya, maka akan membahayakan masyarakat secara umum”.[105] Oleh karena itu, setiap muslim diharapkan menutup kesalahan serta tidak membawanya ke pengadilan apabila ia tidak dapat dibuktikan secara syar’i, agar ia tidak tercium oleh masyarakat sehingga akan membuat mereka langsung bereaksi. Demikian itu akan menjadi musibah besar bagi masyarakat. Melakukan operasi dengan tujuan melindungi pelakunya dari sanksi sosial memiliki relevensi dengan agama.
Dalil Pendapat Pertama
  1. “Operasi pengembalian keperawanan yang rusak dapat menimbulkan percampuran nasab” tidak dapat diterima. Hal ini karena kemungkinan apakah wanita tersebut hamil atau tidak hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan air seni atau darah yang dilakukan oleh dokter.
  2. “Melakukan operasi keperawanan dapat membuat wanita berani melakukan zina” adalah pendapat keliru. Alasannya, wanita yang keperawanannya rusak terkadang adalah wanita shalihah yang taat kepada Allah SWT. Melarang mereka untuk melakukan operasi akan membuat diri mereka merasa terzalimi. Selain itu, mereka juga merasa bahwa kehormatan mereka dalam masyarakat telah hilang. Hal itu besar kemungkinan dapat menyebabkan mereka masuk ke dalam lembah perzinaan. Kondisi ini akan membuat mereka merasa takut untuk menikah karena khawatir kondisinya akan diketahui oleh laki-laki yang akan menikahinya sehingga akhirnya ia lebih memilih untuk melakukan hubungan seks di luar nikah daripada harus menikah. Jadi, mengizinkan mereka untuk melakukan operasi adalah diperbolehkan.
  3. “Operasi keperawanan merupakan tindakan penipuan dan pemalsuan” adalah pendapat yang tidak dapat diterima. Karena tindakan pemalsuan dan penipuan terjadi apabila hal yang disembunyikan itu dapat membahayakan atau merugikan pelakunya jika diketahui cacatnya. Sedangkan operasi semacam ini tidak akan merugikan siapa pun yang akan menikahinya. Operasi seperti ini sama seperti operasi mengembalikan pendengaran atau penglihatan yang telah hilang. Jadi, perbuatan seperti ini tidak mengandung unsur penipuan atau pemalsuan.
Dalil Pendapat Kedua
  1. “Menghalalkan operasi seperti ini merupakan upaya preventif yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat yang menghadapi problema seperti ini” adalah pendapat yang keliru. Tradisi sebagian masyarakat tidak dapat dijadikan landasan hukum, karena ada beberapa masyarakat yang tidak menganut sistem ini. Oleh karena itu, hukum harus dibangun atas landasan universal. Komentar penulis: Melakukansad adz-dzari’ah (tindakan preventif) dalam semua kondisi tidak selalu disyaratkan pada sarana yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram saja, karena ia boleh dicegah dalam kondisi hukum tertentu, seperti keharaman menjual anggur bagi yang berniat menjadikannya sebagai khamar sekalipun tidak semua pembelinya menggunakannya untuk hal tersebut.
  2. Memperbolehkan operasi semacam itu bagi pelaku zina yang belum diketahui oleh masyarakat umum dan belum diajukan ke pengadilan adalah berbahaya. Kemudian pendapat yang mengatakan bahwa syariat menganjurkan kita untuk menyembunyikan aib (maksiat) seperti dalam hadis Maiz di atas adalah benar. Namun pada zaman sekarang ini, menyembunyikan aib yang menjadi rahasia umum dala masyarakat seperti perbuatan zina serta melakukan operasi mengembalikan keperawanan tidak akan dapat menghambat derasnya perzinaan dan membuat pelakunya bertobat. Karena itu, membiarkan wanita tersebut tetap dalam kondisinya dan melarang untuk melakukan operasi agar ia berani menanggung resiko perbuatan yang telah ia lakukan, mau menyadari kesalahan serta dapat menjadi contoh bagi wanita-wanita lain, merupakan pendapat yang lebih tepat.
Pendapat Paling Kuat
Setelah melalui perdebatan panjang di kalangan para ulama kontemporer dengan berbagai macam argumentasi mengenai hukum melakukan operasi mengembalikan keperawanan, maka penulis lebih cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa melakukan operasi pengembalian keperawanan wanita boleh dilakukan dengan syarat antara lain: virginitas wanita itu hilang dalam peristiwa tertentu atau disebabkan oleh perbuatan yang bukan maksiat, seperti jatuh, tertabrak, teraniaya, atau diperkosa. Menurut penulis, pendapat ini memiliki dalil-dalil yang lebih kuat dan masuk akal.
Adapun melakukan operasi bagi wanita yang keperawanannya rusak karena zina, baik yang sudah diketahui umum maupun yang telah diajukan ke pengadilan, adalah dilarang. Hal itu dikhawatirkan akan berdampak pada wanita-wanita lain yang kondisinya sama, sehingga dengan mudah mereka dapat melakukan perbuatan zina kembali.
***
[95] abu al-Husain al-Ashfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, ditahkik oleh Muhammad Sayyid Kailani: al-Babi al-Halabi 1961 H, hal. 187
[96] Muhammad Asy-Syanqithi, Ahkam al-Jirahah ath-Thibbiyyah wa al-Atsar al-Mutarattibah ‘Alaiha, Jeddah: Maktabah ash-Shahabah 1415 H/1994 M, hal. 407
[97] Muhammad asy-Syanqithi, Ahkam al-Jirahah ath-Thibbiyyah wa al-Atsar al-Mutarattibah ‘Alaiha, hal. 407
[98] Hal yang sama juga dikatakan oleh Syeikh Muhammad Mukhtar al-Salami, pada muktamar yang diadakan oleh Organisasi Ilmu Kedokteran Islam dengan tema: at-Thabib baina al-I’lan wa al-Kitman, Kuwait: 1987, hal. 81
[99] Hal yang sama pula dikatakan Taufif al-Wa’i dalam muktamar dengan tema Hukmu Ifsya as-Sirri fi al-Islam, Kuwait: 1987, hal. 81
[100] Na’im Yasin, Abhas Fiqhiyyah fi Qadhaya Thibbiyyah al-Mu’ashirah, Urdun: Dar an-Nafais 1421 H/2000 M, Cet.3, hal. 245-246
[101] Na’im Yasin, Abhas Fiqhiyyah fi Qadhaya Thibbiyyah al-Mu’ashirah, hal. 246. Muhammad Mukhtar Al-Salami, at-Thabib baina al-I’lan wa al-Kitman, hal. 81
[102] Muslim, Shahih Muslim, Bab Bisyarah man Satara Allah ‘alaihi fi as-Dunya. No. 72/537. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah t.th. Imam Nawawi, Syarh an-Nawawi, No. 16/143. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah t.th.
[103] Abu Daud, Sunan Abu Daud, bab al-Hudud, pasal “Fi as-Satri ‘ala al-Hudud”. No. 4377, Beirut: Dar al-Jil 1407 H/1988 M, Jilid IV, hal. 131. Hakim berpendapat bahwa derajat hadis ini adalah Shahih al-Isnad, Zakiyuddin al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib, Kairo: Dar al-Babi al-Halabi t.th, Jilid IV, hal. 285
[104] Al-Kasani, Badai’ ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syari’, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah t.th, Jilid X, hal. 47. Ibnu Farhun, Tabshirah al-Hukkam, Kairo: Maktabah al-Kuliyyat al-Azhariyyah 1407 H/1996 M, Jilid II, hal. 259. Ibnu Qudamah, al-Mughni, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah t.th, Jilid X, hal. 165. Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ al-Jinai al-Islami Muqaranan bi al-Qanun al-Wadh’i, Beirut: Muassasah ar-Risalah 1413 H/1993 M, Cet.2, Jilid II, hal. 395
[105] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Mesir: Maktabah Fayadh al-Mansyurah t.th, Jilid II, hal. 308

On Label: , | 0 Comment

Artikel Populer

REMBULAN HATI

MENCERAHKAN HATI DENGAN CAHAYA-NYA MENYINARI BUMI DENGAN SYARIAT-NYA

FB _Q

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.